Air Mata

Saat purnama bersinar melalui jendela kamar. Cahayanya lembut keperakan, hangat menyentuh wajahku. Aku berbaring sejenak, merasakan kehangatan yang tercipta. Hingga kurasakan kehangatan itu memenuhi sekujur tubuhku. Dan aku jatuh tertidur. Sebuah mimpi kembali menghampiriku. Aku melihat diriku sewaktu kecil. Memandang rintik rinai hujan, berada dalam dekapan papaku. Kami terlihat bahagia, tawa kami berderai-derai. Lalu papa membacakan aku sebuah cerita yang tak aku pahami sama sekali. Namun begitu aku mendengarkannya dengan seksama. Sampai aku terbangun.
Malam masih larut, sunyi, sepi…, tak ada seorangpun selain aku. Hanya suara jam dinding yang berdetak dan hembusan angin yang berderak-derak menggoyangkan jendela kamarku yang masih terbuka. Aku duduk di pembaringanku, kemudian melangkah dengan hati-hati seolah ada yang memperhatikan aku. Lalu aku tutup jendela dengan rapat , tak terdengar lagi suara hembusan angin. Mukaku kusut masai, segudang kesedihan bergelayut dalam hatiku. Kemudian aku berbaring tanpa tidur untuk waktu yang lama. Ada yang mengganjal pelupuk mataku. Hingga sulit untuk menutup kembali. Aku menenggelamkan wajahku dalam bantal sambil menangis. Buliran-buliran sebening embun jatuh memenuhi bantalku.
Tapi ini bukanlah embun yang pertama jatuh bebas ke tanah. Embun menyukai malam, karena dalam malam ada kesunyian. Bukan embun yang melekat pada pucuk-pucuk daun, juga pada rerumputan. Menggantung pada bagian bawah daun dan enggan jatuh ke tanah. Bukan embun yang bersahabat dengan kabut, karena mereka menyukai kabut. Embun-embun juga tidak akan turun pada keriuhan siang. Bukannya mereka takut pada sang raja siang, tapi mereka menyukai kediam-diaman. Embun berarak dalam diamnya. Bersunyi-sunyi, bersepi-sepi. Kurasakan diriku saat ini hanyalah setitik embun yang menggantung di dahan yang kurus, kemudian saat badai datang akan jatuh terhempas ke tanah, meresap dalam pori-pori tanah, kemudian sirna.
Ini hanya air mataku yang terus saja keluar tak bisa aku hentikan. Ia terus melaju, menderas, tak bermuara. Entah di mana kesedihan itu bermuara? Seolah aku bersembunyi di bawah selimut kesedihanku. Hingga aku terbangun dan mendapati bantalku masih basah oleh air mataku yang mengalir karena papa. Aku menderita karena ada rindu yang sempurna. Kenanganku memerah menahan biji-biji ingatanku. Air mata rinduku sudah berbatu-batu.







emg papa km cerita paan?
Kan dah aku bilang, aku nggak tau cerita apa, aku tidak mengerti sama sekali..
hmm.. desya..
membacanya ini.. aku tidak bisa berbuat apa2, tidak juga tahu harus menghibur seperti apa..
sabar ya des.. sabar..
thx kak dyah….
kadang memang aku ingin menangis
ada penggalan lirik bagus nih dari lagu-lagu blues favoritku… yang ini judulnya “Into Each Life Some Rain Must Fall” oleh The Ink Spots… hikmahnya pikir ja sendiri ya, kalo mau hibur kamu skarang pake lagu aja
Into each life some rain must fall
But too much is falling in mine
Into each heart some tears must fall
But some day the sun will shine
iya…, liriknya sangat bagus…, thx dah menghibur
pertama (maaf) mau nitip pesen buat semua penghuni dunia maya: “ikutan vote dan DUKUNG PULAU KOMODO SEBAGAI 7 KEAJAIBAN DUNIA “
kadang ada yang bilang usah menangis. tapi saya lebih suka bilang; menangislah! itu akan menjadikanmu lebih tegar dan segar!
@kebetulan aku dah dukung pak..
iya pak, dengan menangis sekarang terasa lega…
Pak…, tua banget aku, ya…?!
he.. he.. (terserahlah, asal jangan Bu!)
Maaf, maksud aku menghormati anda gitu, kupanggil kakak ja deh..
hmmm…rara….mimpi itu indah ya, bisa mengingatkan kita pada orang yang kita sayangi, sehingga kita pun tak lupa untuk slalu memanjatkan doa kepadaNya…
semangat ya ra… kita semua sayang kamu…
mimpi indah kak, tapi jadi sedih…
thx kak….
Panjatkan doa Ra
Ia mendengarmu….
selalu kak…, doa tak pernah putus….
kerinduan pada seseorang memang bisa bikin hati tersayat, sya.
nauzubillah, namun terkadang malah ditunggangi nafsu emosi sehingga kita jadi berlarut-larut dalam kesedihan. kalau sudah begitu, orang menasihatiku agar istighfar, kemudian mendoakan. tidak ada jalan lain, desya. hanya amal jariyah dan doa anak yang sholeh yang dapat menolong mereka kini. doamu, sya.
terima kasih kak Hema…, bener kata kakak, kadang kesedihan jadi berlarut-larut
iya, desya akan selalu berdoa….
ishbiri ya dek,,panjatkan do’a untuk ayah adek…
ayah di alam sana akan senang jika melihat adek disini berusaha terus melakukan segalanya untuk membanggakannya..
iya kak Vee…, aku akan berusaha dan berdoa ….
indah sekali Ra. sebuah tulisan yg jujur.tentang rindu yg aq tak tahu. kehilangn org yg kita sayangi memang sangat berat.namun adakah kehilangn itu membuat kita makin kuat ato malah hilang semangat?
semoga tidak hilang semangat kak, tapi jadi semakin kuat, tapi kadang-kadang aku merasa rapuh…
Wahhh….Indah banget. Jadi tersentuh nech.
thx….
Hapus airmatamu, Desya. Esok mentari kelak akan memenuhi janjinya. Memberimu terang dan kehangatan.
terima kasih om…, semoga esok akan semakin cerah dengan kehangatan mentari yang selalu menemani…
Jadi ikutan sedih nih,
“bagi tisue dong Ra,hiks..hiks..”
Kalau kamu sedih orang akan ikut sedih tapi kalau kamu senyum seluruh dunia akan ikut tersenyum termasuk orang2 tercinta yg telah pergi..
-tersenyum-
ini tisuenya…, jangan sedih…, aku udah nggak pa-pa kok…
iya akan selalu senyum, biar semua ikutan senyum….
Sedih = boleh
Berlarut dalam sedih = tidah boleh
desya, sekarang saatnya bangkit.
iya Om…, aku akan bangkit…
semangat!!!!
Jangan nangis mulu donk
jadi pengen ikutan nangis nih
senyum donk, jadi bisa ikutan senyum
udah nggak nangis kak…, ini dah senyum…
aduhhh… jangan nangis doonngg… kan nanti gw juga ikutan nangiiss… huhuhu
(keliatan ngegombal gak sih?
)
Iya..
*gombal digoreng-gombal digoreng*
sudahi air mata itu….
biarkan dia mengalir dalam alirannya sendiri
keringkan dengan senyuman ketegaran…
selamat malam rara ^_^
iya kak…, ni dah senyum kok…