Dengarlah
kubaringkan letihku pada segudang tanya
berbantal jam dinding tak bernyawa
melihat wajah Ibu yang kuyu…
mungkin telah lelah menunggu…
munngkin juga ingin marah
namun hati dan rahimnya mencegah
dengarlah…
suaraku tercekat
pada dinding dinding dan sekat
tak pernah lagi bisa keluar dari bibirku…
yang kelu…
secangkir kolosi pahit menemaniku
aku sudah tak bisa lagi merasa
ujung lidahku telah mati rasa
hanya pahit itu yang ter-ecap
dan mataku hanya bisa mengerjap






